Apa yang Sebenarnya Menyatukan Fisioterapi?
Salah satu pertanyaan yang jarang dibahas dalam fisioterapi adalah:
Apa yang sebenarnya menyatukan seluruh praktik fisioterapi?
Sekilas pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun semakin dalam kita mempelajari fisioterapi, semakin sulit menjawabnya.
Fisioterapis bekerja di berbagai area yang sangat berbeda.
Ada fisioterapis yang bekerja di ICU membantu pasien kritis mempertahankan mobilitas dan fungsi respirasi.
Ada fisioterapis yang menangani pasien stroke dengan gangguan kontrol gerak.
Ada fisioterapis muskuloskeletal yang menangani nyeri punggung bawah.
Ada fisioterapis kardiovaskular dan respirasi yang berfokus pada kapasitas fungsional dan toleransi aktivitas.
Ada fisioterapis yang menangani luka bakar, amputasi, limfedema, atau berbagai kondisi integumen lainnya.
Jika dilihat dari diagnosis medis, sistem tubuh yang dominan terlibat, metode pemeriksaan, hingga intervensi yang digunakan, semuanya tampak sangat berbeda.
Lalu apa yang sebenarnya membuat semuanya tetap disebut fisioterapi?
Apakah Yang Menyatukan Kita Adalah Teknik?
Sulit mengatakan demikian.
Teknik yang digunakan fisioterapis neurologi berbeda dengan fisioterapis muskuloskeletal.
Intervensi di ICU berbeda dengan intervensi pada atlet.
Pemeriksaan pasien stroke berbeda dengan pemeriksaan pasien PPOK.
Bahkan instrumen pengukuran yang digunakan sering kali berbeda.
Jika teknik yang menjadi identitas utama, maka fisioterapi akan terpecah menjadi banyak disiplin yang berdiri sendiri.
Apakah Yang Menyatukan Kita Adalah Sistem Tubuh?
Jawabannya juga tidak.
Sebagian fisioterapis banyak bekerja pada sistem muskuloskeletal.
Sebagian lain lebih dominan pada sistem kardiovaskular dan respirasi.
Sebagian lain berfokus pada sistem neuromuskular.
Bahkan banyak kasus melibatkan berbagai sistem secara bersamaan.
Dengan demikian, fisioterapi tidak dapat didefinisikan berdasarkan satu sistem tubuh tertentu.
Apakah Yang Menyatukan Kita Adalah Diagnosis Medis?
Ini juga sulit dipertahankan.
Pasien stroke dan pasien low back pain memiliki diagnosis medis yang sangat berbeda.
Pasien PPOK dan pasien osteoarthritis memiliki patologi yang berbeda.
Pasien ICU dan pasien atlet juga menghadapi masalah kesehatan yang sangat berbeda.
Diagnosis medis membantu memahami kondisi kesehatan individu, tetapi tidak menjelaskan identitas fisioterapi.
Lalu Apa yang Menyatukan Seluruh Area Praktik Fisioterapi?
Mungkin jawabannya adalah:
Gerakan manusia.
Bukan otot.
Bukan sendi.
Bukan paru-paru.
Bukan jantung.
Bukan saraf.
Melainkan gerakan manusia yang muncul dari interaksi seluruh sistem tersebut.
Mengapa Movement Menjadi Kandidat Terkuat?
Mari kita bandingkan.
Pasien Low Back Pain
Fisioterapis mengamati:
- bagaimana pasien bergerak,
- bagaimana pasien bangkit,
- bagaimana pasien membungkuk,
- bagaimana pasien berjalan,
- bagaimana pasien merespons beban.
Pasien Stroke
Fisioterapis mengamati:
- bagaimana pasien mengontrol postur,
- bagaimana pasien melakukan transfer,
- bagaimana pasien berjalan,
- bagaimana pasien menggunakan lengan.
Pasien ICU
Fisioterapis mengamati:
- kemampuan mengubah posisi,
- kemampuan duduk,
- kemampuan berdiri,
- kemampuan mempertahankan aktivitas,
- kemampuan kembali bergerak setelah kondisi kritis.
Pasien PPOK
Fisioterapis mengamati:
- kemampuan bergerak tanpa mengalami intoleransi aktivitas,
- efisiensi gerakan,
- hubungan antara ventilasi dan aktivitas,
- kemampuan menjalankan tugas fisik.
Pasien Luka Bakar
Fisioterapis mengamati:
- bagaimana jaringan memengaruhi gerak,
- bagaimana kontraktur memengaruhi aktivitas,
- bagaimana mempertahankan mobilitas dan fungsi.
Meski area praktiknya berbeda, terdapat satu pertanyaan yang selalu sama:
Bagaimana kondisi kesehatan ini memengaruhi kemampuan individu untuk bergerak?
Dan:
Bagaimana gerakan tersebut dapat dioptimalkan?
Human Movement System Memberikan Benang Merah yang Hilang
Inilah alasan mengapa konsep Human Movement System menjadi penting.
Bukan karena konsep ini menawarkan teknik baru.
Bukan karena menggantikan patologi atau diagnosis medis.
Melainkan karena konsep ini menyediakan lensa yang sama untuk melihat seluruh area praktik fisioterapi.
Ketika seorang fisioterapis ICU dan fisioterapis muskuloskeletal menggunakan lensa Human Movement System, keduanya sebenarnya sedang mengamati fenomena yang sama:
gerakan manusia.
Perbedaannya hanya terletak pada konteks, tujuan aktivitas, dan sistem yang paling dominan memengaruhi performa gerak.
Tanpa Lensa Movement, Fisioterapi Mudah Terfragmentasi
Inilah salah satu tantangan terbesar fisioterapi modern.
Setiap area praktik mengembangkan:
- terminologi sendiri,
- metode pemeriksaan sendiri,
- alat ukur sendiri,
- model intervensi sendiri,
- kerangka berpikir sendiri.
Akibatnya, fisioterapis neurologi dapat berbicara dengan bahasa yang berbeda dari fisioterapis muskuloskeletal.
Fisioterapis respirasi dapat menggunakan kerangka yang berbeda dari fisioterapis olahraga.
Fisioterapis ICU dapat menggunakan pendekatan yang berbeda dari fisioterapis komunitas.
Padahal semuanya berada dalam profesi yang sama.
Tanpa suatu konsep pemersatu, fisioterapi berisiko menjadi kumpulan subspesialisasi yang hanya memiliki organisasi yang sama tetapi tidak memiliki landasan konseptual yang sama.
Movement Sebagai Objek Profesi
Jika diagnosis medis menjelaskan kondisi kesehatan, dan impairment menjelaskan kapasitas sistem tubuh, maka yang menjadi objek utama fisioterapi seharusnya adalah gerakan manusia.
Gerakan menjadi titik temu antara:
- sistem muskuloskeletal,
- sistem neuromuskular,
- sistem kardiovaskular,
- sistem respirasi,
- sistem integumen,
- sistem metabolik,
- faktor personal,
- faktor lingkungan,
- dan tuntutan aktivitas.
Karena itu gerak bukan sekadar salah satu aspek yang dipelajari fisioterapi.
Gerak adalah fenomena yang mengintegrasikan seluruh aspek tersebut.
Mungkin Inilah Filosofi yang Menyatukan Fisioterapi
Jika seorang fisioterapis ICU dan fisioterapis yang menangani low back pain ditanya:
Apa yang membuat kalian berada dalam profesi yang sama?
Jawaban yang paling masuk akal mungkin bukan:
"Karena kami sama-sama menangani otot."
Atau:
"Karena kami sama-sama memberikan latihan."
Melainkan:
Karena kami sama-sama berusaha memahami dan mengoptimalkan gerakan manusia, meskipun kondisi kesehatan, konteks, dan sistem yang dominan terlibat berbeda.
Di situlah mungkin letak identitas fisioterapi yang sesungguhnya.
Bukan pada teknik tertentu.
Bukan pada diagnosis medis tertentu.
Bukan pada satu sistem tubuh tertentu.
Melainkan pada komitmen untuk memahami bagaimana manusia bergerak, mengapa gerakan menjadi terbatas, dan bagaimana gerakan tersebut dapat dioptimalkan agar individu dapat menjalani kehidupannya secara lebih baik.
Pertanyaan untuk Profesi
Jika movement memang merupakan benang merah yang menyatukan seluruh area praktik fisioterapi, maka pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah pendidikan, asesmen, diagnosis, dokumentasi, penelitian, dan intervensi fisioterapi saat ini sudah benar-benar dibangun di atas kerangka gerak yang sama?
Atau justru kita masih lebih banyak disatukan oleh nama profesi daripada oleh cara berpikir yang sama tentang gerakan manusia?
Pertanyaan inilah yang mungkin perlu dijawab jika fisioterapi ingin berkembang sebagai ilmu tentang Human Movement System, bukan sekadar kumpulan teknik rehabilitasi untuk berbagai kondisi kesehatan.
Komentar
Posting Komentar