Fungsi yang Mana? Mengurai Hubungan Gerak, Function, dan Functioning dalam Fisioterapi
Pada artikel sebelumnya, kita mengkritisi kecenderungan fisioterapi untuk terlalu cepat berpindah dari masalah gerak menuju impairment. Kita sering mengukur kekuatan otot, mobilitas sendi, fleksibilitas, nyeri, atau keseimbangan tanpa terlebih dahulu menjelaskan gangguan gerak yang sebenarnya sedang terjadi.
Dari pembahasan tersebut muncul satu gagasan penting:
Gerak adalah fenomena emergen yang muncul dari interaksi Human Movement System dengan tuntutan tugas dan faktor kontekstual.
Dengan kata lain, gerak lebih tepat dipahami sebagai perilaku kompleks dalam konteks tertentu daripada sekadar hasil kontraksi otot atau pergerakan sendi.
Namun jika fisioterapi mengidentifikasi dirinya sebagai profesi yang berfokus pada "gerak dan fungsi", maka masih ada satu pertanyaan yang belum selesai:
Fungsi yang dimaksud sebenarnya fungsi yang mana?
Karena ternyata istilah "fungsi" tidak sesederhana yang sering kita gunakan dalam praktik sehari-hari.
Ketika Semua Disebut Fungsi
Dalam praktik klinis, kata fungsi digunakan hampir untuk segala hal.
Kita sering mendengar:
"Fungsi lutut pasien membaik."
"Fungsi berjalan pasien meningkat."
"Fungsi ekstremitas atas sudah kembali."
"Tujuan terapi adalah mengembalikan fungsi."
Sekilas tidak ada masalah.
Tetapi jika dicermati lebih dalam, setiap kalimat tersebut sebenarnya dapat merujuk pada hal yang berbeda.
Apakah yang dimaksud adalah:
- fungsi fisiologis tubuh?
- kemampuan melakukan aktivitas?
- kemampuan menjalankan peran sosial?
- atau kemampuan individu menjalani kehidupannya secara keseluruhan?
Sering kali kita menggunakan satu kata untuk menjelaskan berbagai konsep yang sebenarnya berbeda.
Akibatnya, istilah fungsi menjadi sangat sering digunakan tetapi kurang jelas maknanya.
Mengapa ICF Penting?
Salah satu kontribusi terbesar kerangka adalah membantu membedakan berbagai konsep yang selama ini sering dicampur menjadi satu istilah "fungsi".
Dalam ICF, functioning bukanlah satu komponen tunggal.
Functioning merupakan hasil interaksi antara:
- Health Condition
- Body Functions
- Body Structures
- Activities
- Participation
- Environmental Factors
- Personal Factors
Kerangka ini membantu kita memahami bahwa apa yang selama ini disebut "fungsi" sebenarnya terdiri dari beberapa lapisan yang berbeda tetapi saling berhubungan.
Gerak Tidak Berdiri di Luar ICF
Menariknya, sebagian fisioterapis menganggap bahwa konsep gerak dan ICF adalah dua hal yang terpisah.
Padahal sebenarnya tidak demikian.
Gerak yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya justru dapat dipahami lebih utuh melalui kerangka ICF.
Masalahnya, gerak sering kali tidak ditampilkan secara eksplisit dalam diagram ICF sehingga mudah terlewatkan.
Akibatnya muncul kecenderungan untuk melihat hubungan yang terlalu sederhana:
Body Function → Activity → Participation
Padahal hubungan tersebut tidak terjadi secara otomatis.
Ada sesuatu yang menjembataninya.
Dan sesuatu itu adalah gerakan manusia.
Body Function dan Body Structure Menjelaskan Kapasitas Sistem Gerak
Dalam ICF, body functions dan body structures menjelaskan kapasitas sistem yang memungkinkan gerak terjadi.
Misalnya:
Body Functions
- kekuatan otot
- kontrol motorik
- propriosepsi
- keseimbangan
- kapasitas aerobik
- fungsi sensorik
Body Structures
- otot
- tendon
- tulang
- sendi
- saraf
- sistem kardiovaskular
Komponen-komponen inilah yang paling sering menjadi fokus asesmen fisioterapi.
Kita mengukur:
- MMT
- ROM
- nyeri
- tonus
- fleksibilitas
- kapasitas kardiorespirasi
Semua pemeriksaan tersebut penting.
Namun semuanya baru menjelaskan kapasitas sistem yang menghasilkan gerak.
Mereka belum menjelaskan gerak itu sendiri.
Gerak Adalah Jembatan yang Hilang
Inilah titik yang sering terlewatkan.
Body function dan body structure tidak secara langsung menghasilkan aktivitas.
Yang menjembatani keduanya adalah gerakan manusia.
Sebagai contoh:
Kekuatan quadriceps bukanlah aktivitas.
Mobilitas ankle bukanlah aktivitas.
Kontrol trunk bukanlah aktivitas.
Ketiganya berkontribusi terhadap kemampuan seseorang melakukan gerakan tertentu.
Gerakan tersebut kemudian memungkinkan individu menyelesaikan suatu aktivitas.
Dengan demikian hubungan yang lebih sesuai mungkin digambarkan sebagai:
Body Structure & Function → Gerak → Activity → Participation → Functioning
Gerak menjadi penghubung antara kapasitas biologis dan kemampuan fungsional.
Tanpa memahami gerak, hubungan antara impairment dan keterbatasan aktivitas sering kali hanya berupa asumsi.
Activity: Ketika Gerak Digunakan untuk Menyelesaikan Tugas
Dalam ICF, aktivitas adalah pelaksanaan suatu tugas atau tindakan oleh individu.
Contohnya:
- berjalan
- bangkit dari kursi
- menaiki tangga
- berpakaian
- makan
- menulis
- mengangkat benda
Di sinilah gerak memperoleh tujuan.
Gerakan bukan lagi sekadar fenomena biomekanik.
Gerakan digunakan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Karena itu, aktivitas sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari gerak.
Aktivitas adalah tujuan langsung yang diwujudkan melalui gerakan.
Participation: Ketika Aktivitas Menjadi Kehidupan
Namun manusia tidak hidup untuk sekadar menyelesaikan tugas.
Manusia melakukan aktivitas untuk menjalankan kehidupannya.
Dalam ICF, hal ini disebut participation.
Contohnya:
- bekerja
- bersekolah
- menjadi orang tua
- mengikuti kegiatan sosial
- beribadah
- berolahraga
- menjalankan peran dalam masyarakat
Participation menjelaskan mengapa aktivitas menjadi penting.
Karena pada akhirnya yang ingin dicapai bukan sekadar kemampuan berjalan.
Yang ingin dicapai adalah kemampuan kembali menjalani kehidupan yang bermakna.
Fungsi Tubuh atau Functioning?
Di sinilah salah satu kekeliruan yang cukup sering terjadi.
Ketika fisioterapis mengatakan:
"Fungsi pasien membaik."
Sering kali yang sebenarnya dimaksud adalah:
"Body function pasien membaik."
Misalnya:
- kekuatan meningkat,
- ROM meningkat,
- nyeri berkurang,
- keseimbangan membaik.
Padahal dalam perspektif ICF, functioning jauh lebih luas daripada body function.
Functioning mencerminkan bagaimana seseorang hidup, bergerak, melakukan aktivitas, dan berpartisipasi dalam lingkungannya.
Dengan demikian:
- Body Function bukan functioning.
- Activity bukan functioning.
- Participation bukan functioning.
Ketiganya merupakan komponen yang bersama-sama membentuk functioning.
Mengapa Analisis Gerak Tetap Menjadi Inti Fisioterapi?
Jika functioning adalah tujuan yang lebih luas, apakah berarti fisioterapis cukup fokus pada activity dan participation?
Jawabannya tidak.
Karena gerak tetap menjadi inti yang membedakan fisioterapi dari banyak profesi kesehatan lainnya.
Observasi dan analisis gerak merupakan proses yang menghubungkan:
- kapasitas sistem tubuh,
- performa aktivitas,
- dan functioning individu.
Melalui analisis gerak, fisioterapis berusaha memahami:
- bagaimana aktivitas dilakukan,
- mengapa aktivitas menjadi sulit,
- strategi apa yang digunakan,
- kompensasi apa yang muncul,
- faktor apa yang membatasi performa.
Karena itu, gerak bukan sekadar salah satu komponen dalam praktik fisioterapi.
Gerak adalah lensa utama yang digunakan fisioterapis untuk memahami functioning manusia.
Intervensi Tidak Ditujukan untuk Memperbaiki Impairment Semata
Konsekuensi klinis dari cara pandang ini sangat penting.
Jika gerak adalah penghubung antara kapasitas tubuh dan functioning, maka tujuan intervensi tidak boleh berhenti pada perbaikan impairment.
Peningkatan kekuatan otot bukan tujuan akhir.
Peningkatan ROM bukan tujuan akhir.
Penurunan nyeri bukan tujuan akhir.
Semuanya merupakan sarana.
Pertanyaan yang harus selalu dijawab adalah:
Apakah perubahan tersebut menghasilkan perbaikan gerak?
Dan selanjutnya:
Apakah perbaikan gerak tersebut menghasilkan peningkatan aktivitas dan partisipasi?
Karena tanpa perubahan gerak, perbaikan impairment mungkin hanya menjadi perubahan angka pada hasil pengukuran.
Sebaliknya, keberhasilan fisioterapi seharusnya ditunjukkan oleh perubahan yang bermakna pada cara seseorang bergerak dan menjalani kehidupannya.
Dari Gerak Menuju Functioning
Jika artikel sebelumnya mengajak kita mendefinisikan ulang gerak, maka artikel ini mengajak kita mendefinisikan ulang fungsi.
Dalam perspektif yang lebih luas:
- Body Functions dan Body Structures menjelaskan kapasitas sistem gerak.
- Gerak menjelaskan bagaimana kapasitas tersebut diwujudkan dalam perilaku motorik.
- Activity menjelaskan tujuan langsung dari gerakan.
- Participation menjelaskan makna aktivitas dalam kehidupan seseorang.
- Functioning menjelaskan keseluruhan kemampuan individu untuk hidup, bergerak, beraktivitas, dan berpartisipasi dalam konteks kehidupannya.
Dengan demikian, mungkin sudah saatnya fisioterapi tidak lagi menggunakan istilah "gerak dan fungsi" sebagai slogan yang diterima begitu saja.
Sebaliknya, kita perlu menjelaskan hubungan keduanya secara lebih eksplisit.
Karena tanpa memahami gerak, kita akan kesulitan menjelaskan mengapa keterbatasan aktivitas terjadi.
Dan tanpa memahami functioning, kita akan kesulitan menjelaskan mengapa gerak itu penting.
Untuk Didiskusikan
- Ketika Anda mengatakan "fungsi pasien membaik", fungsi pada level mana yang sebenarnya dimaksud?
- Apakah asesmen fisioterapi saat ini terlalu berfokus pada body function dan body structure?
- Apakah gerak perlu ditempatkan secara lebih eksplisit dalam kerangka berpikir fisioterapi?
- Bagaimana cara terbaik menjelaskan hubungan antara gerak dan functioning kepada mahasiswa fisioterapi?
- Apakah diagnosis fisioterapi seharusnya dimulai dari gangguan gerak sebelum mengidentifikasi impairment yang mendasarinya?
Bacaan Selanjutnya
"Diagnosis Fisioterapi: Mengapa Daftar Impairment Bukan Diagnosis Gerak?"
Komentar
Posting Komentar