Ketika Fisioterapi Mengaku Berfokus pada Gerak, Tetapi Belum Menyelesaikan Makna Gerak
"Kami adalah profesi yang berfokus pada gerak dan fungsi."
Kalimat ini begitu sering diulang dalam fisioterapi sehingga hampir tidak pernah lagi dipertanyakan. Kita menemukannya dalam dokumen profesi, kurikulum pendidikan, presentasi akademik, hingga berbagai materi promosi kepada masyarakat.
Namun semakin sering suatu istilah digunakan, semakin besar kemungkinan kita menganggap maknanya sudah jelas padahal belum tentu demikian.
Jika fisioterapi memang merupakan profesi yang berfokus pada gerak, maka pertanyaan yang seharusnya dapat dijawab dengan mudah adalah:
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan gerak?
Pertanyaan ini mungkin terdengar terlalu mendasar. Namun justru karena terlalu mendasar, ia sering terlewatkan.
Selama ini kita lebih banyak membahas penyakit, patologi, impairment, intervensi, dan teknologi terapi dibandingkan mendiskusikan objek utama yang menjadi identitas profesi kita sendiri.
Apakah Kita Benar-Benar Menilai Gerak?
Mari kita lihat bagaimana pemeriksaan fisioterapi biasanya dilakukan.
Ketika seorang pasien datang dengan keluhan kesulitan berjalan, bangkit dari kursi, menjaga keseimbangan, atau menggunakan tangannya untuk aktivitas sehari-hari, pemeriksaan yang sering dilakukan meliputi:
- Kekuatan otot
- Lingkup gerak sendi
- Fleksibilitas
- Nyeri
- Spastisitas
- Keseimbangan
- Fungsi sensorik
Semua pemeriksaan tersebut penting.
Namun pertanyaannya adalah:
Berapa banyak perhatian yang kita berikan untuk benar-benar mendeskripsikan gerakan yang menjadi masalah?
Tidak jarang dokumentasi fisioterapi dipenuhi oleh angka MMT, ROM, VAS, atau berbagai hasil pengukuran lainnya, tetapi hanya sedikit menjelaskan seperti apa gangguan gerak yang sebenarnya terjadi.
Kita lebih cepat menulis:
"Quadriceps lemah."
dibandingkan:
"Pasien gagal mengontrol fleksi lutut saat menerima beban pada fase awal berjalan."
Kita lebih cepat mencatat:
"ROM dorsifleksi terbatas."
dibandingkan:
"Pasien tidak mampu melakukan forward progression secara adekuat selama stance phase."
Secara tidak sadar, kita sering lebih fokus pada faktor yang diduga memengaruhi gerak daripada gerak itu sendiri.
Ketika Impairment Dianggap Sebagai Gerak
Di sinilah muncul persoalan yang cukup mendasar.
Kekuatan otot bukan gerak.
Mobilitas sendi bukan gerak.
Fleksibilitas bukan gerak.
Nyeri bukan gerak.
Spastisitas bukan gerak.
Semua itu adalah karakteristik individu yang dapat memengaruhi kemampuan bergerak.
Namun semuanya bukan gerak itu sendiri.
Perbedaan ini sangat penting.
Karena objek yang diamati dan faktor yang menjelaskan objek tersebut bukanlah hal yang sama.
Ketika seorang pasien menunjukkan pola berjalan tertentu, pola berjalan itulah fenomena yang perlu dipahami terlebih dahulu.
Sementara kelemahan otot, keterbatasan mobilitas sendi, nyeri, atau faktor lainnya merupakan kemungkinan penjelasan mengapa pola gerak tersebut muncul.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari keduanya sering bercampur.
Kita seolah menganggap bahwa dengan mengukur impairment, kita telah mengukur gerak.
Padahal yang kita ukur sebenarnya hanyalah sebagian faktor yang mungkin memengaruhi gerak.
Apakah Kita Terlalu Cepat Menyimpulkan?
Konsekuensi berikutnya adalah kecenderungan untuk terlalu cepat menyimpulkan penyebab suatu masalah gerak.
Ketika pasien sulit bangkit dari kursi dan ditemukan kelemahan quadriceps, kita segera menganggap kelemahan tersebut sebagai penyebab utama.
Ketika pasien berjalan lambat dan ditemukan keterbatasan dorsifleksi pergelangan kaki, kita langsung menghubungkan keduanya.
Mungkin benar.
Namun belum tentu.
Dua individu dengan tingkat kelemahan otot yang sama dapat menunjukkan performa gerak yang sangat berbeda.
Dua individu dengan keterbatasan ROM yang serupa dapat memiliki kemampuan aktivitas yang berbeda.
Bahkan individu yang sama dapat menunjukkan performa gerak yang berbeda dalam situasi yang berbeda meskipun kondisi tubuhnya relatif tidak berubah.
Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan antara impairment dan gerak tidak selalu sederhana maupun linear.
Gerak Tidak Berasal dari Satu Sistem
Salah satu alasan mengapa gerak begitu kompleks adalah karena gerak bukan produk dari satu struktur atau satu sistem tubuh tertentu.
Tidak ada satu otot yang menghasilkan berjalan.
Tidak ada satu sendi yang menghasilkan kemampuan bangkit dari kursi.
Tidak ada satu sistem yang secara tunggal menghasilkan gerakan manusia.
Gerak muncul dari interaksi berbagai sistem yang bekerja secara bersamaan.
Sistem saraf.
Sistem muskuloskeletal.
Sistem sensorik.
Sistem kardiovaskular.
Sistem respirasi.
Sistem metabolik.
Serta berbagai faktor psikologis, perilaku, sosial, dan lingkungan.
Setiap sistem berkontribusi.
Namun tidak ada satu pun yang dapat menjelaskan gerak secara utuh.
Gerak Adalah Fenomena Emergen
Mungkin salah satu cara yang lebih tepat untuk memahami gerak adalah dengan melihatnya sebagai fenomena emergen.
Fenomena emergen adalah fenomena yang muncul dari interaksi berbagai komponen sehingga tidak dapat dijelaskan hanya dengan mempelajari komponen-komponen tersebut secara terpisah.
Dengan perspektif ini, gerak bukan sesuatu yang berada pada otot, sendi, atau saraf.
Gerak muncul dari interaksi dinamis seluruh komponen yang membentuk Human Movement System.
Karena itu gerak tidak dapat direduksi menjadi:
- kekuatan otot,
- mobilitas sendi,
- fleksibilitas,
- atau parameter impairment lainnya.
Komponen-komponen tersebut memang berkontribusi terhadap gerak.
Namun bukan gerak itu sendiri.
Gerak adalah hasil dari interaksi seluruh komponen tersebut.
Gerak Adalah Perilaku Kompleks dalam Konteks Tertentu
Ada satu aspek lain yang sering terlewatkan.
Gerak tidak pernah terjadi dalam ruang hampa.
Gerak selalu memiliki tujuan.
Seseorang tidak sekadar berjalan.
Ia berjalan menuju suatu tempat.
Seseorang tidak sekadar berdiri.
Ia berdiri untuk melakukan sesuatu.
Seseorang tidak sekadar mengangkat lengan.
Ia mengangkat lengan untuk meraih, bekerja, bermain, atau berinteraksi dengan lingkungannya.
Karena itu gerak tidak cukup dipahami sebagai perpindahan segmen tubuh dalam ruang.
Gerak lebih tepat dipahami sebagai:
Perilaku kompleks yang muncul dari interaksi Human Movement System, tuntutan tugas, dan faktor kontekstual untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam perspektif ini, performa gerak seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kapasitas biologisnya, tetapi juga oleh tujuan aktivitas, karakteristik tugas, lingkungan, pengalaman sebelumnya, motivasi, perhatian, persepsi risiko, serta berbagai faktor kontekstual lainnya.
Analisis Gerak Seharusnya Menjadi Inti Pemeriksaan Fisioterapi
Jika gerak merupakan fenomena kompleks yang muncul dari interaksi berbagai sistem dan faktor kontekstual, maka observasi dan analisis gerak seharusnya menjadi inti pemeriksaan fisioterapi.
History, patologi, faktor psikososial, pemeriksaan sistem tubuh, serta berbagai pengukuran impairment memiliki peran yang sangat penting.
Namun seluruh informasi tersebut seharusnya digunakan untuk membantu menjelaskan gangguan gerak yang telah diidentifikasi.
Bukan menggantikan analisis gerak itu sendiri.
Pertanyaan utama fisioterapis seharusnya bukan:
"Otot apa yang lemah?"
melainkan:
"Gangguan gerak apa yang terjadi?"
Setelah itu barulah kita bertanya:
"Mengapa gangguan gerak tersebut terjadi?"
Perubahan urutan berpikir ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah arah clinical reasoning secara fundamental.
Diagnosis Fisioterapi Seharusnya Menjelaskan Gangguan Gerak
Jika fisioterapi adalah profesi yang berfokus pada gerak, maka diagnosis fisioterapi seharusnya mampu menjelaskan gangguan gerak yang dialami individu.
Diagnosis fisioterapi tidak cukup berhenti pada:
- kelemahan otot,
- keterbatasan ROM,
- nyeri,
- atau gangguan keseimbangan.
Temuan-temuan tersebut penting, tetapi belum menjelaskan masalah utama yang ingin dipahami fisioterapis.
Yang perlu dijelaskan adalah:
- Gerakan apa yang terganggu?
- Bagaimana gangguan tersebut muncul?
- Dalam aktivitas apa gangguan tersebut terjadi?
- Faktor apa yang berkontribusi terhadap munculnya gangguan tersebut?
Dengan kata lain, diagnosis fisioterapi seharusnya lebih dekat dengan diagnosis gerak daripada sekadar daftar impairment.
ICF Tidak Menggantikan Analisis Gerak
Di sinilah posisi ICF perlu dipahami secara tepat.
ICF sangat membantu fisioterapis untuk memetakan hubungan antara:
- kondisi kesehatan,
- fungsi dan struktur tubuh,
- aktivitas,
- partisipasi,
- faktor lingkungan,
- dan faktor personal.
ICF membantu komunikasi antarprofesi dan memberikan kerangka untuk memahami functioning manusia secara lebih utuh.
Namun ICF tidak dirancang untuk menjelaskan bagaimana gangguan gerak terjadi.
ICF tidak menjelaskan strategi gerak.
ICF tidak menjelaskan kompensasi gerak.
ICF tidak menjelaskan kualitas gerak.
ICF tidak menjelaskan mekanisme munculnya suatu pola gerak.
Untuk memahami hal-hal tersebut, fisioterapis memerlukan observasi dan analisis gerak.
Dengan demikian, ICF bukan pengganti analisis gerak.
ICF membantu memetakan dampak gangguan gerak terhadap functioning, sedangkan analisis gerak membantu menjelaskan fenomena gerak itu sendiri.
Intervensi Fisioterapi Seharusnya Ditujukan untuk Memperbaiki Gerak
Konsekuensi paling penting dari seluruh pembahasan ini adalah tujuan intervensi fisioterapi.
Jika masalah utama yang ditangani fisioterapi adalah gangguan gerak, maka tujuan utama intervensi juga harus berfokus pada perbaikan gerak.
Peningkatan ROM bukan tujuan akhir.
Peningkatan kekuatan otot bukan tujuan akhir.
Penurunan nyeri bukan tujuan akhir.
Semua itu adalah sarana.
Pertanyaan yang selalu harus dijawab adalah:
Apakah perubahan tersebut menghasilkan perbaikan gerak yang bermakna?
Karena tidak semua perbaikan impairment menghasilkan perbaikan gerak.
Dan tidak semua perbaikan gerak membutuhkan perubahan impairment yang besar.
Oleh karena itu, keberhasilan fisioterapi tidak cukup dibuktikan dengan perubahan impairment semata.
Perubahan tersebut harus mampu menunjukkan dampak terhadap kualitas gerak, kemampuan aktivitas, dan functioning individu secara keseluruhan.
Sebelum Membahas Fungsi, Kita Perlu Menyelesaikan Gerak
Mungkin persoalan terbesar bukanlah bahwa fisioterapi tidak memahami gerak.
Melainkan bahwa kita belum sepenuhnya menyepakati apa yang dimaksud dengan gerak.
Selama ini kita jauh lebih terampil mengukur berbagai faktor yang memengaruhi gerak dibandingkan mendeskripsikan gerak itu sendiri.
Padahal jika gerak merupakan objek utama profesi, maka gerak seharusnya menjadi pusat observasi, analisis, diagnosis, dan intervensi fisioterapi.
Karena pada akhirnya, fisioterapi bukan sekadar profesi yang memperbaiki otot, sendi, atau nyeri.
Fisioterapi adalah profesi yang berupaya memahami, menganalisis, dan mengoptimalkan gerakan manusia.
Dan sebelum kita dapat menjelaskan hubungan antara gerak dan fungsi, kita perlu terlebih dahulu menyepakati satu hal yang paling mendasar:
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan gerak?
Untuk Didiskusikan
- Apakah asesmen fisioterapi saat ini lebih berpusat pada gerak atau impairment?
- Apakah diagnosis fisioterapi yang kita gunakan sudah benar-benar menjelaskan gangguan gerak?
- Seberapa sering kita mendeskripsikan gerak sebelum mencari penyebabnya?
- Dapatkah fisioterapi disebut profesi gerak jika fokus asesmennya masih didominasi oleh impairment?
- Bagaimana menurut Anda definisi gerak yang paling sesuai untuk fisioterapi modern?
Bacaan Selanjutnya
Fungsi yang Mana? Mengurai Hubungan Gerak, Function, dan Functioning dalam Fisioterapi.
Komentar
Posting Komentar